Menjadi Warga Muhammadiyah yang Muhammadiyah

Kini Organsisasi Gerakan Muhammdiyah telah berusia 106 tahun. Muhammadiyah lahir sebagai gerakan untuk memurnikan ajaran islam yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunah, karena kondisi umat islam di Indonesia yang waktu itu masih mencampur adukan anatara ajaran islam dengan ajaran-ajaran kejawen yang berbau Takhayul, Bid’ah dan Khurofat.

Sebagai warga Muhammadiyah yang sudah berusia 106 tahun seharusnya kita sudah mampu menjalankan ibadah menurut Al-Qur’an dan As-Sunah seperti yang dicontohkan oleh Rosululloh, sesuai dengan Khittah perjuangan Muhammadiyah. Dan kita seharusnya juga sudah mampu menolak amalan-amalan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rosululloh saw yang dilakukan oleh warga masyarakat di sekeliling kita.

Sebagai warga Muhammadiyah terkadang kita sendiri masih melaksanakan amalan-amalan ibadah yang tidak dicontohkan tanpa melihat dalil atau perintahnya tapi hanya  karena amalan itu sudah biasa dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Terkadang juga kita masih mau menerima undangan atau ajakan  warga di sekeliling kita  yang melaksanakan amalan-amalan yang tidak dicontohkan yang  sebenarnya kita tahu kalau itu tidak ada contohnya, namun budaya rikuh pekewuh dikalangan masyarkat kita ternyata masih begitu dominan sehingga kita belum untuk menolaknya. Ironisnya kondisi seperti ini masih berjalan dilingkungan masyarakat yang mayoritas adalah Warga Muhammadiyah

Sebagai warga Muhammadiyah tentu kita mengetahui bahwa senua  amalan ibadah yang tidak ada dalil atau contohnya adalah tertolak dihadapan Alloh SWT

Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,

الأصل في العبادات التحريم

Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).

 

Di antara dalil kaedah adalah firman Allah Ta’ala,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuraa: 21).

Juga didukung dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718). Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

Begitu pula dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, An Nasa-i no. 46. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa kita baru bisa melaksanakan suatu ibadah jika ada dalilnya, serta tidak boleh kita merekayasa suatu ibadah tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya.

Perlu diketahui bahwa teman-teman kita di organisasi lain yang mohon maaf usianya masih jauh dibawah kita ternyata sudah mampu berkata TIDAK untuk amalan ibadah yang tidak ada dalil atau contohnya. Sementara kita yang bernaung di bawah organisasi gerakan yang usianya jauh lebih tua, kenapa belum mampu atau mau dengan tegas mengatakan hal yang sama, padahal itu adalah tujuan dan arah perjuangan Organisasi Gerakan Muhammadiyah.

Dari apa yang kami sampaikan intinya kita sebagai warga Muhammdiyah masih membutuhkan pencerahan dan ilmu pengetahuan tentang ajaran islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, senada dengan Khittah Perjuangan Gerakan Muhammadiyah, sehingga kita mampu menjadi Warga Muhammadiyah yang Muhammadiyah.

 

Penulis

Toharudin

PCM Binorong

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *