Kisah Cicit KH. Ahmad Dahlan di Langgar Kidul (Ziarah 2)

Kauman Yogyakarta, tanggal 24 Nopember 2018, Siang ba’da sholat dhuhur di Masjid Keraton Kauman Yogyakarta, setelah kunjungan ke Masjid Jogokariyan dan refeshing sejenak di Gua Pindul. Rombongan PCPM Kalibening menuju ke Kampung Kauman untuk melanjutkan agenda wisata religi yaitu bertemu dengan salah sorang cicit pendiri Muhammadiyah yaitu ibu Diyah yang merupakan generasi ke delapan dari KH. Ahmad Dahlan.

Suasana akrab terjalin saat kami sampai di langgar kidul tempat awal digagasnya ide-ide cemerlang Muhammadiyah. Dibuka dengan sambutan dari ketua rombongan Aman Budiyono dengan ucapan terima kasih bahwa cicit dari KH. Ahmad Dahlan berkenan meluangkan waktu disela-sela kesibukannya. Kemudian dilanjutkan dengan cerita dari Bu Diyah bahwa langgar kidul masih difungsikan untuk kegiatan dakwah sebagaimana dulu yang dilakukan Kyai Dahlan. Beliau juga menuturkan bahwa betapa sederhana dan ikhlasnya beliau dalam berdakwah melalui Muhammadiyah.

Kyai adalah seorang pebisnis batik pada zamannya ujar bu Diyah di sela- sela beliau bercerita. Rumah toko yang digunakan untuk produksi dan jualan beliau serta langgar kidul masih di gunakan untuk kegiatan biasa walaupun saat ini sedang dilakukan proses perubahan status pemindahan pengelolaan menjadi milik Muhammadiyah agar terjaga dan terpelihara dengan baik karena peninggalan yang ada adalah sebagai saksi mati perjuangan kyai Dahlan dalam mengembangkan agama islam.

Kyai Dahlan adalah orang yang sederhana, visioner dan sangat iklas. Kisah yang populer adalah bagaimana beliau melelang harta benda yang ada dirumahnya untuk membiayai gaji guru Bustanul Athfal yang belum di gaji beberapa bulan sehingga pada akhirnya beliaupun hanya tidur diatas tikar berlubang. Bahkan ketika Bung Karno kerumahnya yang ada tikar saking sederhanya. Juga betapa beliau tidak hanya memikirkan kehidupan para gelandangan pada saat itu beliau memikirkan bagimana para gelandangan bisa mencari nafkan sendiri untuk bisa menghidupi kehiduoannaya selanjutnya.

Ditengah dialog dengan bu Diyah, ada hal yang mengharukan dari salah seorang peserta dari PRPM Paninggaran Cabang Kajen yang menceritakan bagaimana minoritas Muhammadiyah disana di intimidasi dalam pergerakannya. Keluarga, anak-anak dan para aktifis yang melaksanakan program kerja nyata dengan mendirikan panti asuhan dimusuhi bahkan diancam akan di bunuh jika melanjutkan kegiatan Muhammadiyah di Paninggaran. Bu Diyah kemudian menanggapi bahwa perjuangan dakwah kyai Dahlan juga pernah mendapat ancaman pembunuhan saat ber dakwah ke jawa barat namun dengan jiwa iklas bahwa segala sesuatu diperjuangan untuk mendapatkan ridho Allah maka yang menentang justru malah menjadi pendukung perjuangan beliau.

Kegitan kemudian ditutup dengan harapan semoga bu Diyah berkenan ke Kalibening dan Paninggaran untuk memberikan motivasi kader Muhammadiyah. Pesan terakhir beliau adalah semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpa, semakin besar Muhammadiyah semakin kompleks juga rintangan yang dihadapi. Semoga kader Muhammadiyah selalu di beri kekuatan dan keiklasan dalam bermuhammadiyah dan berislam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *