(1) Dengan Segala Keterbatasan, Kader Terbaik IPM Banjarnegara Berhasil Menimba Ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Berapakah biaya yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir? Berapakah kebutuhan biaya hidup disana? Jika kita berhitung dan menemukan angkanya sudah pasti kita bergumam bahwa tidak mungkin orang dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah mampu untuk menyekolahkan anaknya kesana. Tidak mungkin remaja biasa-biasa saja, tidak banyak harta bercita-cita  menuntut ilmu di negeri nun jauh dari tempat tinggalnya.

Faiz Albar Darmawan (19), remaja kelahiran Kampung Kerkop RT 1 RW 5, Wonosobo Barat, Kabupaten Wonosobo itu membuktikan diri bahwa analisa diatas salah. Faiz bukanlah anak yang dilahirkan dari keluarga berada, ekonomi keluarganya hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk bersekolah ke dua orang adiknya. Tetapi kini ia telah sampai disana. November 2018 ia terbang bersama teman-temannya, menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Faiz adalah anak pertama dari tiga bersaudara, kedua orang adiknya masih bersekolah. Ada Jihan Annasa yang sekarang masih sekolah di SMA Muhammadiyah Banjarnegara, dan adik bungsunya Annasai Fitri Nur Aini yang saat ini masih duduk di kelas 2 SD Negeri  4 Wonosobo. Jihan sang adikpun sekarang juga telah mengikuti jejak kakaknya, menjadi Sekretaris Umum PD IPM Banjarnegara.

Mereka lahir dari seorang Ayah bernama Zaenal Kosim yang kesehariannya berdagang bensin eceran dan ibu Umi Saroh yang kesehariannya menjadi Karyawan di Instalasi Gizi RSIA Adina Wonosobo. Kita bisa membayangkan betapa hebatnya kedua orang tua ini. Mereka bukanlah saudagar kaya raya, bukan pula Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Perusahaan besar, bukan pula orang yang berpendidikan tinggi mempunyai gelar doktor, profesor, dan sebagainya, tetapi mampu mendidik putera-puterinya menjadi pribadi-pribadi yang hebat.

Faiz dan keluarga

Berawal dari ber-Organisasi.

Selesai pendidikan SMP, Faiz merantau ke Banjarnegara melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah Banjarnegara. Disanalah perjalanan panjang menggapai cita-cita dimulai. Pada tahun 2014 dia mulai aktif ber-Organisasi, bahkan secara tiba-tiba dia dipanggil oleh Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Banjarnegara untuk diamanahi menjadi ketua panitia Musyawarah Daerah waktu itu.

“Awalnya saya mendapat SMS dari PD IPM untuk datang ke kantor PDM, saya langsung meng-iyakan saja dan segera menuju PDM setelah selesai kegiatan sekolah, tetapi kaget bukan main ketika bertemu dengan ketua IPM ternyata ditunjuk jadi ketua panitia Musyda” katanya.

“saya kaget dan takut sebenarnya. Kaget karena selama ini belum pernah aktif di PD IPM dan takut karena sama sekali belum pernah ngurusi kegiatan sebesar Musyda, apalagi menjadi ketua panitia” lanjutnya.

Tetapi setelah dirayu dan diyakinkan oleh teman-teman PD IPM dia akhirnya menyanggupi. Sebuah pertaruhan yang luar biasa sebenarnya PD IPM berani menunjuk orang yang benar-benar baru dan belum pernah aktif untuk menjadi ketua panitia acara besar sekelas Musyda. Salah satu Pimpinan PD IPM, Firmansyah, ketika ditanya kenapa yakin memilih Faiz dia mengatakan bahwa walaupun belum pernah mengikuti kegiatan IPM, jiwa kepemimpinan Faiz sudah terlihat,” karena Faiz adalah teman satu sekolah saya jadi selama ini saya amati Faiz punya kemampuan untuk melakukan tugas itu” ungkapnya.

Faiz membayar kepercayaan yang diberikan oleh PD IPM. Dia berhasil menjalankan amanah menjadi ketua panitia dan pelaksanaan Musyda berjalan dengan lancar. Sejak saat itulah dia aktif ber-Organisasi melalui IPM. Berkat keterampilannya pula dia dipercaya menjadi ketua bidang Organisasi PD IPM Banjarnegara periode Musyda 2014.

Dan lagi-lagi Faiz mampu membuktikan diri dia merupakan pribadi yang cerdas dan hebat karena dibawah kepemimpinannya, selama kurun waktu tiga tahun, yaitu 2014 sampai dengan 2017, bidang organisasi PD IPM Banjarnegara mampu menghidupkan kembali 5 Cabang IPM di Banjarnegara yang sebelumnya mati. Hingga puncaknya pada Musyda tahun 2017 dia terpilih menjadi ketua umum PD IPM Banjarnegara periode 2017 – 2019.

Faiz merasa bersyukur bisa kenal dan kemudian aktif di IPM, selain itu dia juga senang berada di lingkungan keluarga besar Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah telah berperan menjadi lingkungan utama penyebab kesuksesan setelah keluarga. “dengan ber-Muhammadiyah saya mengenal arti perjuangan, pengorbanan, arti lelah, arti kehidupan, mengenal masa depan. Muhammadiyah adalah rumah akselerasi bagi mereka yang ingin mendewasakan dan meng-upgrade diri. Muhammadiyah adalah keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Sakinah (tenang) siapapun yang masuk Muhammadiyah dan mau bersabar , menjalani dan meresapi gerakan di Muhammadiyah akan diberi ketenangan hati dalam menjalankannya terlebih lagi ketika memiliki semangat  berta’awun (tolong menolong), dan bertakaful (saling menjamin) bersamaan dengan semangat gotong royong maka mawadah dan rohmah (cinta dan kasih sayang) Allah curahkan kepada kita”

“Dari IPM pula saya di didik untuk menjadi orang yang tidak takut bercita-cita. Saya ingat betul pak Fahmi, guru ngaji kami di IPM pernah mengatakan bahwa bercita-citalah setinggi mungkin nanti urusan Allah yang punya kekuatan untuk mengabulkan cita-cita itu”

“dia mengumpamakan jika ingin membangun sekolah, desain harus sebaik mungkin, semodern mungkin, agar dapat menjadi sarana pendidikan yang baik. Jangan takut tidak punya uang untuk membangun. Sebagian besar dari kita terlalu takut untuk bercita-cita besar. Membangun sekolah yang bagus takut jika nanti tidak biayanya tidak cukup. Ya akhirnya jadilah sekolah yang biasa-biasa saja, tidak mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain. Bercita-citalah yang tinggi, kalau hari ini kita belum bisa mewujudkannya masih ada anak cucu kita yang akan meneruskan” ujar Faiz menceritakan apa motivasi yang pernah ia dengar dari Pak Fahmi.

 

Selalu ada rintangan untuk mencapai tujuan.

Tahun 2016 Faiz lulus dari SMA Muhammadiyah Banjarnegara. Mulailah ia membangun cita-cita masa depannya. Dia sudah memutuskan akan melanjutkan pendidikan ke Madinah. “InsyaAllah saya akan melanjutkan ke Madinah, tapi harus membekali diri dulu, baik materil dan non materil, jadi rencananya saya akan mondok terlebih dahulu untuk mendalami bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang lain. Alhamdulillah sudah diterima di Ma’had Tahfidz Yogyakarta” katanya.

Tapi malang bukan kepalang, ternyata rencana yang sudah ia susun tidak berjalan mulus. Dia memang sudah mendapat tiket di Ma’had Tahfidz Yogyakarta, karena jauh hari sebelum lulus dia sudah mendaftar dan diterima. Tetapi setelah lulus dia begitu asik ber-IPM. Setiap hari dia naik-turun gunung, melakukan kunjungan ke-Cabang-cabang Muhammadiyah, melaksanakan tanggung jawabnya mendirikan beberapa Cabang IPM baru. Setiap kali ditanya temannya “kapan berangkat Mondok?” dia selalu menjawab “sebentar lagi”. Entah sudah beberapa kali menjawab sebentar lagi waktu sudah berjalan sampai bulan September 2016. Akhirnya dia memutuskan untuk berangkat. Sebelum berangkat dia menelepon ke pihak pondok tetapi malang nasibnya, jatah kursi santri yang harusnya diisi Faiz ternyata sudah di isi oleh orang lain. Pihak pondok mengira Faiz tidak jadi mendaftar karena tak kunjung hadir kesana.

Ternyata Allah punya rencana lain, tidak selang lama dari kegagalan untuk berangkat ke Jogja, Faiz diterima di Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal ini membuat kita semakin yakin bahwa pertolongan Allah sangat dekat “barang siapa menolong Agama Allah, pasti Allah akan menolongnya” (QS. Muhammad : 7)

Tanpa menunggu waktu lama Faiz berangkat, khawatir jika telat dan gagal kembali. Disana dia menimba ilmu, memupuk cita-cita yang sudah ditanamnya, belajar di Madinah. Disana dia juga aktif pada kegiatan-kegiatan Muhammadiyah bersama PCM Kotabarat, Surakarta. Selain itu dia juga tetap melaksanakan tanggung jawabnya menjadi ketua umum PD IPM dengan menyempatkan waktu pulang mengurus Organisasi setiap dua pekan sekali. bersambung..

(fit_)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *