(2) Dengan Segala Keterbatasan, Kader Terbaik IPM Banjarnegara Berhasil Menimba Ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Cita – cita itu akhirnya tercapai.

Setelah menjalani pendidikan lebih kurang satu tahun di Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta, Faiz mencoba untuk mendaftar di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Niatnya untuk melanjutkan di Madinah dia ganti setelah melalui beberapa pertimbangan dan diskusi dengan teman-teman serta ustadznya yang ada di Ma’had. Dia memutuskan untuk beralih ke Mesir dengan alasan: jika ke Madinah itu pengumuman penerimaan baru akan keluar 1 atau 2 tahun setelah pendaftaran. Itu jika diterima, jika tidak maka waktu selama itu akan menjadi waktu yang terbuang. Akhirnya dia memutuskan untuk memilih Al-Azhar Cairo, Mesir. “awalnya belum begitu niat. Tapi setelah konsultasi dengan teman tentang keutamaan Mesir saya jadi tertarik” katanya.

Dia mendapat motivasi “kiblatu at-ta’abudiyyah hiya fii Ka’bah wa kiblatu taalumiyyah hiya Al- Azhar Asy-Syarif” kiblat untuk ibadah adalah di Mekkah , dan kiblat untuk menuntut ilmu itu di Al Azhar Asy-Syarif.

“saya ingin mendapatkan keduanya , setelah selesai S1 di Al Azhar saya berniat melanjutkan S2 dan S3 ke Mekkah ataupun Madinah yang banyak para mahasiswa mengatakan sangat sulit untuk melanjutkan study kesana. Tapi bagaimana pun caranya, saya terus berdoa agar Allah mengabulkannya”

Akhirnya Faiz mendaftar dengan mengikuti seleksi program S1 Non Beasiswa (Bea Mandiri) Perguruan Tinggi Luar Negeri Mesir Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama Indonesia. Tanggal 12 Mei 2018 dia berangkat mengikuti tes di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama ke lima orang temannya dari Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq UMS, bersaing dengan ribuan pendaftar lain.

Dan hasilnya dia lolos. Melalui surat pengumuman Diktis Kemenag Nomor : 2531/DJ.I/DT.I.III/PP.04/07/2018. Namanya tercantum pada baris nomor 1422. Ia menjadi salah satu peserta dari 1606 orang yang berhak lolos untuk melanjutkan study ke Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Faiz sempat tidak percaya bahwa dirinya lolos, sedangkan ke lima orang temannya yang bersama-sama berangkat dari Solo tidak ada yang lolos satupun. Padahal, mereka adalah orang-orang yang selalu menjadi tempat Faiz belajar, bertanya mengenai ilmu-ilmu yang belum ia ketahui karena mereka berasal dari pondok sehingga mempunyai pengetahuan keagamaan yang lebih baik.

Tips menggapai cita-cita.

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan seorang Faiz Albar Darmawan antara lain adalah; pendangan umum masyarakat yang mengatakan bahwa pendidikan itu mahal, susah, memang benar adanya, tetapi jika pandangan itu membuat kita berhenti berusaha adalah salah. Karena semua pandangan itu diukur dari kemampuan manusia, yang membuat kita lupa bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Jika Dia berkehendak, “kun..!!, fayakun..”.

Segala keinginan dan harapan harus digantungkan semata kepada Allah, sembari terus berdoa tiada mengenal lelah. “saya merengek kepada Allah dalam setiap doa yang saya sampaikan sehabis shalat. Sambil berdoa saya membayangkan seolah-olah Mesir dan Madinah berada di depan saya dan saya berada di dalamnya” Hal itu selalu ia ulang-ulang setiap hari dengan istiqomah.

Selain doa-doa yang dipanjatkan melalui lisan, doa harus dibarengi dengan ikhtiar sebagai upaya dalam merayu Allah. “saya berdoa melalui wasilah amal-amal kebaikan (birrul walidain, ber-IPM, ber-Muhammadiyah). Intinya mengemis ke Allah terus bahwa “yaa Robb , aku sudah berusaha birrul walidain, memperjuangkan agamamu dengan ber-IPM, ber-Muhammadiyah , dan cita-cita ku semuanya adalah kebaikan , orientasi nya ibadah , yaa Robb aku yakin suatu saat kau akan mengabulkan doaku” saya merengek ke Allah terus menerus” katanya.

Dia menceritakan, semenjak aktif di IPM dan di Muhammadiyah sedikit sekali waktu yang ia habiskan di rumah, berangkat sekolah jam 06.30, sekira jam 21.30 malam baru sampai rumah. Sepulang sekolah dilanjutkan dengan kegiatan – kegiatan IPM sampai sore. Selesai acara IPM dia  menjadi  penarik uang donatur SD Muhammadiyah Argasoka dan koperasi fastabiq milik PCM Argasoka. Pengumpulan dana dilakukan setiap bulan. Sepulang sekolah. Dengan masih memakai seragam sekolah dia berkeliling ke warga Muhammadiyah di Argasoka yang telah terdaftar menjadi donatur. Satu hari biasanya bisa menyelesaikan 5-7 rumah dan itu selalu memakan waktu paling cepat jam 8 sampai bisa jam setengah 10 malam. Padahal jumlah anggota koperasi ada sekitar 50 orang. Selesai penarikan donatur pulang ke rumah biasanya pintu sudah di kunci karena keluarga sudah tidur.

“Disitulah saya mulai memahami makna lelah. Tetapi hikmah besar yang didapat adalah silaturahim kepada banyak keluarga, dengan berbagai cerita dan permasalahan hidup masing-masing keluarga. Seringkai banyak dari mereka mengajak ngobrol dan curhat, tapi saya seneng karena keutamaan silaturahim itu luar biasa besar , dan dari situ pula saya mendapat hadiah selalu didoakan kebaikan dunia dan akhirat oleh mereka”

Kini jerih lelah yang Faiz rasakan telah berbuah dan manis rasanya. Perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan dibayar oleh Allah dengan memberinya kesempatan menimba ilmu di Universitas Al-Azhar. Hal itu mematahkan segala paradigma pesimis yang ada di benak banyak orang. Selagi Allah menghendaki keterbatasan hanyalah pecahan-pecahan beling yang berserakan di tengah jalan. Mungkin pedih jika kita berjalan di atasnya, namun disertai ketekunan dan kesabaran, tujuan yang di impikan akan datang. Sukses kader terbaik IPM Banjarnegara! Timba ilmu sebanyak-banyaknya dan bagikan kepada kami disini. (fit_)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *