Artikel

(2) Dengan Segala Keterbatasan, Kader Terbaik IPM Banjarnegara Berhasil Menimba Ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.

(2) Dengan Segala Keterbatasan, Kader Terbaik IPM Banjarnegara Berhasil Menimba Ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Artikel, Feature
Cita – cita itu akhirnya tercapai. Setelah menjalani pendidikan lebih kurang satu tahun di Ma'had Abu Bakar Ash-Shiddiq Universitas Muhammadiyah Surakarta, Faiz mencoba untuk mendaftar di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Niatnya untuk melanjutkan di Madinah dia ganti setelah melalui beberapa pertimbangan dan diskusi dengan teman-teman serta ustadznya yang ada di Ma’had. Dia memutuskan untuk beralih ke Mesir dengan alasan: jika ke Madinah itu pengumuman penerimaan baru akan keluar 1 atau 2 tahun setelah pendaftaran. Itu jika diterima, jika tidak maka waktu selama itu akan menjadi waktu yang terbuang. Akhirnya dia memutuskan untuk memilih Al-Azhar Cairo, Mesir. “awalnya belum begitu niat. Tapi setelah konsultasi dengan teman tentang keutamaan Mesir saya jadi tertarik” katanya. Dia me
(1) Dengan Segala Keterbatasan, Kader Terbaik IPM Banjarnegara Berhasil Menimba Ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.

(1) Dengan Segala Keterbatasan, Kader Terbaik IPM Banjarnegara Berhasil Menimba Ilmu di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Artikel, Feature
Berapakah biaya yang dibutuhkan untuk menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir? Berapakah kebutuhan biaya hidup disana? Jika kita berhitung dan menemukan angkanya sudah pasti kita bergumam bahwa tidak mungkin orang dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah mampu untuk menyekolahkan anaknya kesana. Tidak mungkin remaja biasa-biasa saja, tidak banyak harta bercita-cita  menuntut ilmu di negeri nun jauh dari tempat tinggalnya. Faiz Albar Darmawan (19), remaja kelahiran Kampung Kerkop RT 1 RW 5, Wonosobo Barat, Kabupaten Wonosobo itu membuktikan diri bahwa analisa diatas salah. Faiz bukanlah anak yang dilahirkan dari keluarga berada, ekonomi keluarganya hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk bersekolah ke dua orang adiknya. Tetapi kini ia telah sampai disana.
Setianya istri, lancarkan suami terima di RS PKU Muhammadiyah Banjarnegara

Setianya istri, lancarkan suami terima di RS PKU Muhammadiyah Banjarnegara

Artikel, Serba-serbi
Argasoka - Purwanto yang selama ini dikenal  sebagai seorang penjual pentol keliling ingin merubah nasib perekonomiannya dengan cara mendaftarkan diri untuk bekerja di RSU PKU Muhammadiyah Banjarnegara di formasi Cleaning Service, dengan harapan besar bisa diterima sehingga mampu memperbaiki kualitas diri dan kualitas perekoniamannya yang selama ini masih dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Mendaftar diri untuk bekerja di RS PKU Muhammadiyah Banjarnegara tentu bukanlah hal yang mudah dan  harus difikirkan secara matang dan mantap, karena menyangkut dengan pekerjaan untuk mencari nafkah keluarga. Namun hal itu sudah dipertimbangkan penuh termasuk dengan istri dan ternyata sang istri sangat mendukung. ”Dari awal mengenai info lowongan lewat salah satu grup WA yang saya iku
Kisah Cicit KH. Ahmad Dahlan di Langgar Kidul (Ziarah 2)

Kisah Cicit KH. Ahmad Dahlan di Langgar Kidul (Ziarah 2)

Artikel, Berita, Cabang Ranting
Kauman Yogyakarta, tanggal 24 Nopember 2018, Siang ba’da sholat dhuhur di Masjid Keraton Kauman Yogyakarta, setelah kunjungan ke Masjid Jogokariyan dan refeshing sejenak di Gua Pindul. Rombongan PCPM Kalibening menuju ke Kampung Kauman untuk melanjutkan agenda wisata religi yaitu bertemu dengan salah sorang cicit pendiri Muhammadiyah yaitu ibu Diyah yang merupakan generasi ke delapan dari KH. Ahmad Dahlan. Suasana akrab terjalin saat kami sampai di langgar kidul tempat awal digagasnya ide-ide cemerlang Muhammadiyah. Dibuka dengan sambutan dari ketua rombongan Aman Budiyono dengan ucapan terima kasih bahwa cicit dari KH. Ahmad Dahlan berkenan meluangkan waktu disela-sela kesibukannya. Kemudian dilanjutkan dengan cerita dari Bu Diyah bahwa langgar kidul masih difungsikan untuk kegiatan da

Menjadi Warga Muhammadiyah yang Muhammadiyah

Artikel, Kajian
Kini Organsisasi Gerakan Muhammdiyah telah berusia 106 tahun. Muhammadiyah lahir sebagai gerakan untuk memurnikan ajaran islam yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunah, karena kondisi umat islam di Indonesia yang waktu itu masih mencampur adukan anatara ajaran islam dengan ajaran-ajaran kejawen yang berbau Takhayul, Bid’ah dan Khurofat. Sebagai warga Muhammadiyah yang sudah berusia 106 tahun seharusnya kita sudah mampu menjalankan ibadah menurut Al-Qur’an dan As-Sunah seperti yang dicontohkan oleh Rosululloh, sesuai dengan Khittah perjuangan Muhammadiyah. Dan kita seharusnya juga sudah mampu menolak amalan-amalan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rosululloh saw yang dilakukan oleh warga masyarakat di sekeliling kita. Sebagai warga Muhammadiyah terkadang kita sendiri masih melaksanak